Di ujung jalan itu,terdapat sebuah desa yang begitu tentram dan damai. di sana terdapat  rumah yang dihuni oleh sebuah keluarga yang hidup dalam kesederhanaan. seorang ayah yang hanya berprofesi sebagai seorang guru, dan ibu yang hanya sebagai ibu rumah tangga tetapi juga berwirausaha diluaran sana. mereka memiliki 4 orang anak. dua laki dan dua perempuan. keseharian ayahnya mereka layaknya seorang guru, pergi ke sekolah mengajar dan mengajar, dia menafkahi keluarganya dari gaji yang ia dapatkan tiap bulan. mereka hidup dalam kesederhanaan. sebagai seoarng ayah, dia selalu menasehati anaknya untuk menjadi seorang yang rendah hati, sederhana. dia selalu berpesan “ketika kalian berjalan dimanapun, janganlah kalian selalu melihat ke atas tetapi lihatlah ke bawah”. pesan itu selalu di ingat oleh anak-anaknya. karena pesan itu mengandung makna yang mendalam, dimanapun anaknya berada mereka selalu mengingat pesan ayahnya, mereka menanam pesan itu jauh di dalam lubuk hati mereka. sehingga mereka selalu berusaha untuk hidup dalam kederhanaan dimanapun mereka berada.

Seiring berjalannya waktu, hidup terus bergulir bagaikan berputar dalam sebuah roda kehidupan. terkadang berada di atas dan terkadang berada di bawah. hal itu tak membuat keluarga itu tergoyah. keseharian sang ayah secara tidak langsung menanamkan pola pikir pada diri anaknya bahwa guru adalah pekerjaan yang luar biasa, bukan hanya di mata Allah tetapi juga di mata atau pandangan masyarakat itu sendiri. guru adalah sebuah profesi yang sangat mulia, mengajar dan mendidik . suatu ketika, sang ayah pernah berkata kepada anaknya “kita adalah keluarga yang biasa, yang hidup dalam kesederhanaan. ayah tak bisa mewariskan apa-apa kepada kalian layaknya orang diluaran sana. tetapi ayah hanya bisa mewariskan sebuah pulpen yang dimana hanya berisi tinta yang bisa kalian gunakan untuk mengukir masa depan kalian. goresan tinta ini akan menjadi pintu gerbang masa depan kalian. kalimat sang ayah langsung menusuk hati sang anak, mereka langsung berfikir akankah ku mampu membuka pintu masa depanku hanya dengan sebuah pulpen..??

hari demi hari,bulan terus berganti,,begitu juga tahun terus berubah,,anak-anak yang dulu masih remaja kini telah dewasa dan sang ayah dan ibu telah memasuki masa tuanya. sang anak yang telah mengerti akan arti kehidupan, kini mampu mengerti dan memahami perkataan sang ayah yang dulu. kini pertanyaan sang anak telah terjawabkan,, dan mengrti apa yang diinginkan sang ayah. membuka pintu masa depan tidak harus dengan sesuatu yang besar, teapi sebuah pulpen mampu menjadi kunci pintu gerbang masa depan ,,

dan kini sebuah pulpen warisan sang ayah telah berada dalam genggaman sang anak, dan tinggal menunggu kapan sang goresan tinta mulai di ukir .

dan sang  anak pun berkata,

ayah dan bunda ku tercinta,

kini anak mu telah mulai  dewasa,

pulpen yang dulu ayah wariskan,

kini berada digenggaman..

pulpen ini akan menghasilkan goresan tinta emas,

yang mampu menorehkan senyuman di wajah kalian…

dan pintu gerbang masa depanpun akan terbuka lebar..

semuanya ku persembahkan untuk kalian…