EVALUASI PEMBELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi- kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu. Atau bisa kita katakan pembelajaran adalah upaya seorang guru untuk membelajarkan siswa, dari tidak tahu menjadi tahu. Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang terprogram dalam desain FEE (facilitating,empowering,enabling), untuk membuat mahasiswa belajar secara aktif, yang menekankan pada sumber belajar. Pembelajaran merupakan proses pengembangan kreativitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir mahasiswa, serta dapat meningkatkan dan mengkonstruksi serta melakukan penjelajahan pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan dan pengembangan yang baik terhadap materi perkuliahan.

Tujuan pokok proses pembelajaran adalah untuk mengubah tingkah laku siswa berdasarkan tujuan yang telah direncanakan dan disusun oleh guru sebelum proses kegiatan pembelajaran berlangsung. Perubahan tingkah laku itu mencakup aspek intelektual. Ketika proses pembelajaran dipandang sebagai proses perubahan tingkah laku siswa, peran penilaian dalam proses pembelajaran menjadi sangat penting. Penilaian dalam proses pembelajaran merupakan suatu proses untuk mengumpulkan, menganalisa dan menginterpretasi informasi untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran. Sebagai bagian yang sangat penting dari sebuah proses pembelajaran, penilaian dalam proses pembelajaran hendaknya dirancang dan dilaksanakan oleh guru.

Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan. Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.

Dengan melakukan penilaian ketika melaksanakan proses pembelajaran, guru akan dapat mengetahui tingkat keberhasilan proses pembelajaran dan akan memperoleh bahan masukan untuk menentukan langkah selanjutnya. Dengan demikian, keefektifan suatu proses pembelajaran banyak ditentukan oleh peran penilaian dalam proses pembelajaran itu sendiri. Furqon (1999) menyatakan bahwa penilaian sebagai salah satu komponen utama proses pembelajaran harus dipahami, direncanakan dan dilaksanakan dalam upaya mendukung keberhasilan peningkatan mutu proses pembelajaran. Mengingat hal tersebut, perlu dilakukan penilaian dalam proses pembelajaran secara terus menerus dan berkesinambungan sebagai alat pemantau tentang keefektifan proses belajar serta kemampuan siswa belajar..

Penilaian dalam proses pembelajaran merupakan bagian penting dari proses pembelajaran, karena itu hendaknya dilakukan oleh guru agar dapat memperoleh informasi proses kemajuan belajar siswa dan informasi keefektifan pembelajaran yang sedang berlangsung. Guru yang hanya mengutamakan penilaian hasil tidak akan mendapatkan informasi yang akurat tentang siswa yang benar-benar memahami materi dan siswa yang kurang memahami. Siswa yang dapat menjawab dengan benar suatu persoalan, belum tentu mengetahui bagaimana mendapatkan jawaban tersebut. Penilaian dalam proses pembelajaran lebih dapat berfungsi memberikan informasi tentang siswa yang sudah memahami materi atau yang belum. Penilaian ini berkesinambungan dengan penilaian hasil artinya hasil penilaian dalam proses pembelajaran akan memberikan sumbangan positif terhadap penilaian hasil. Dengan demikian perlu diupayakan agar guru melakukan penilaian dalam proses pembelajaran di samping melakukan penilaian hasil belajar.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian evaluasi dan evaluasi pembelajaran?
  2. Apa tujuan dan fungsi evaluasi pembelajaran?
  3. Apa jenis evaluasi pembelajaran ?
  4. Apakah sasaran evaluasi pembelajaran ?
  5. Apakah kriteria tes yang baik?
  6. Apakah ragam alat evaluasi pembelajaran?
  7. Apakah evaluasi dalam pelbagai ranah psikologi?

C. Tujuan

Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah:

  1. Untuk mengetahui pengertian evaluasi dan evaluasi pembelajaran.
  2. Untuk mengetahui tujuan dan fungsi evaluasi pembelajaran.
  3. Untuk mengetahui jenis-jenis evaluasi pembelajaran.
  4. Untuk mengetahui sasaran evaluasi pembelajaran.
  5. Untuk mengetahui tes yang baik
  6. Untuk mengetahui ragam alat evaluasi pembelajaran.
  7. Untuk mengetahui evaluasi dalam pelbagai ranah psikologi


BAB II PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi mencakup sejumlah teknik yang tidak bisa diabaikan oleh seorang guru maupun dosen. Evaluasi bukanlah sekumpulan teknik semata-mata, tetapi evaluasi merupakan suatu proses yang berkelanjutan yang mendasari keseluruhan kegiatan pembelajaran yang baik. Evaluasi artinya penelitian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah diterapkan dalam sebuah program. Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan.

Selain itu para tokoh juga mengemukakan beberapa pengertian evaluasi itu sendiri, seperti Davies mengemukakan bahwa evaluasi merupakan proses untuk memberikan atau menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, maupun objek. Menurut Wand dan Brown, evaluasi merupakan suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Pengertian evaluasi lebih dipertegas lagi dengan batasan sebagai proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu.

Sesungguhnya, dalam konteks penilaian ada beberapa istilah yang digunakan, yakni pengukuran, assessment dan evaluasi. Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Unsur pokok dalam kegiatan pengukuran ini, antara lain adalah sebagai berikut:

  1. tujuan pengukuran,
  2. ada objek ukur,
  3. alat ukur,
  4. proses pengukuran,
  5. hasil pengukuran kuantitatif.

Sementara, pengertian asesmen (assessment) adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan. Assessment  yang menurut Tardief et al (1989), yang berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Sedangkan evaluasi secara etimologi berasal dari bahasa Inggeris evaluation yang bertarti value, yang secara secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian. Namun, dari sisi terminologis ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan, yakni:

1)         Suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu.

2)         Kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah berdasarkan atas tujuan yang jelas.

3)         Proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif hasilpengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan.

Berdasarkan pada berbagai batasan 3 jenis penilaian di atas, maka dapat diketahui bahwa perbedaan antara evaluasi dengan pengukuran adalah dalam hal jawaban terhadap pertanyaan “what value” untuk evaluasi dan “how much” untuk pengukuran. Adapun asesment berada di antara kegiatan pengukuran dan evaluasi. Artinya bahwa sebelum melakukan asesment ataupun evaluasi lebih dahulu dilakukan pengukuran. Sekalipun makna dari ketiga istilah (measurement, assessment, evaluation) secara teoretik definisinya berbeda, namun dalam kegiatan pembelajaran terkadang sulit untuk membedakan dan memisahkan batasan antara ketiganya, dan evaluasi pada umumnya diawali dengan kegiatan pengukuran (measurement) serta pembandingan (assessment).

Dengan berdasarkan batasan-batasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa evaluasi secara umum dapat diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, maupun objek) berdasarkan kriteria tertentu. Dalam rangka kegiatan pembelajaran, evaluasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses sistematik dalam menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guru akan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik. Adapun langkah-langkah pokok dalam penilaian secara umum terdiri dari:

1)      Perencanaan,

2)      Pengumpulan data,

3)      Verifikasi data,

4)      Analisis data, dan

5)      Interpretasi data.

Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai

  1. B.     Tujuan Dan Fungsi Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi yang berarti pengungkapan dan pengukuran hasil belajar itu, pada dasarnya merupakan proses penyususnan diskripsi baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Namun perlu penyusunan kemukakan bahwa kebanyakan pelaksanaan evaluasi cenderung bersifat kuantitatif, lantaran penggunaan symbol angka atau skor untuk menetukan kwalitas kesuluruhan kinerja akademik siswa dianggap sangat nisbi. Walaupun begitu guru yang piawai dan professional perlu berusaha mencari kiat evaluasi yang lugas, tuntas, dan meliputi seluruh kemampuan ranah cipta , rasa, dan karsa siswa guna mengurangi kenisbian hasilnya.

Dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:

1)      Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Hal ini berarti dengan evaluasi guru dapat mengetahui kemajuan perubahan tingkah laku siswa sebagai hasil proses belajar dan mengajar yang melibatkan dirinya selaku pembimbing dan pembantu kegiatan belajar siswanya itu.

2)      Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar. Hal ini berarti dengan adanya evaluasi, guru akan dapat mengetahui gambaran tingkat usaha siswa. Hasil yang baik pada umunya menunjukkan adanya tingkat usaha yang efisien, sedangkan hasil yang buruk adalah cerminan usaha yang tidak efisien.

3)      Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya. Dengan demikian , hasil evaluasi itu dapat dijadikan sebagai alat penetap oleh guru, apakah siswa tersebut termasuk kategori cepat, sedang, atau lambat dalam arti mutu kemampuan belajarnya.

4)      Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan guru dalam peroses belajar mengajar (PBM). Dengan adanya evaluasi guru dapat menilai sendiri apakah metode yang digunakan dalam mengajar efektif bagi siswa atau tidak.

5)      Untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan.

Selain itu berdasarkan Undang-Undang Sisdiknas No.20 Tahun 2003 Pasal 58(1) evaluasi hassil belajar peserta didik dilakukan untuk memantau peroses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik, secara berkesinambungan. Dengan demikian, maka evaluasi belajar harus dilakuakan guru secara continue, bukan hanya pada musim-musim ulangan terjadwal atau ujian semata.

Disamping memiliki tujuan, evaluasi pembelajaran juga memiliki fungsi-fungsi sebagaimana seperti di bawah ini :

  1. Fungsi administrative untuk penyusunan daftar nilai dan pengisian buku rapor.
  2. Fungsi promosi untuk menetapkan kenaikan atau kelulusan.
  3. Fungsi diagnostic untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dan merencanakan program remedial teaching (pengajaran perbaikan).
  4. Sebagai sumber data belajar pembelajaran yang dapat memasok data siswa yang memerlukan bimbingan dan penyuluhan.
  5. Sebagai bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan dating yang meliputi pengembangan kurikulum, metode dan alat-alat untuk proses belajar mengajar.

Selain fungsi di atas, penilaian juga dapat berfungsi sebagai alat seleksi  penempatan, dan diagnostik, guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil pembelajaran. Penjelasan dari setiap fungsi tersebut adalah:

a)      Fungsi seleksi. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan seleksi,

yaitu menyeleksi calon peserta suatu lembaga pendidikan/kursus berdasarkan kriteria tertentu.

b)      Fungsi Penempatan. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan

penempatan agar setiap orang (peserta pendidikan) mengikuti pendidikan pada jenis dan/atau jenjang pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing.

c)      Fungsi Diagnostik. Evaluasi diagnostik berfungsi atau dilaksanakan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami peserta didik, menentukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesulitan belajar tersebut.

Selanjutnya, evaluasi juga mengandung fungsi psikologi yang cukup significant bagi siswa maupun bagi para guru dan orang tuanya. Bagi siswa, penilaian guru merupakan alat bantu untuk mengatasi kekurangan atau ketidakmapuannya dalam menilai kemampuan dan kemajuan dirinya sendiri. Dengan mengethaui taraf kemampuan dan kemajuan dirinya sendiri, siswa memiliki self consciousness, kesadarannya yang lugas mengenai eksistensi dirinya, dan juga metacognitive, pengetahuan yang benar mengenai batas kemampuan akalnya sendiri. (Mulcahy dkk.1991). Dengan demikian, siswa diharapkan mampu menetukanp posisi dan statusnya secara tepat diantara teman-teman dan masyrakatnya sendiri.

Bagi orang tua atau wali siswa, dengan evaluasi itu kebutuhan akan pengetahuan mengenai hasil usaha dan tanggung jawabnya mengembangkan potensi anak akan terpenuhi. Pengetahuan seperti ini dapat mendatangkan rasa pasti kepada orang tua dan wali siswa dalam menetukan langkah-langlah pendidikan lanjutan bagi anaknya. Sementara itu, bagi para guru sendiri (sebagai evaluator) hasil evaluasi prestasi tersebut dapat membantu mereka dalam menentukan warna sikap “efikai-diri” dan “efikasi-kontekstual” .

C. Jenis Evaluasi Berdasarkan Tujuan

1. Jenis Evaluasi berdasarkan tujuan

a. Pre Test dan Post Test

Kegiatan Pre Test dilakukan guru secara rutin pada setiap akan memulai penyajian materi baru. Tujuanny adalah untuk mengidentifikasi taraf pengetahuan siswa mengenai bahan yang akan disajikan. Evaluasi seperti ini berlangsung singkat dan sering tidak memrlukan instrument tertulis.

Post Test adalah kebalikan dari Pre Test, yakni kegiatan evaluasi yang dilakukan guru pada setiap akhir penyajian materi. Tujuannya adalah untuk mengethaui taraf penguasaan siswa atas materi yang telah diajarkan. Evaluasi ini juga berlangsung singkat dan cukup dengan menggunakan instrument sederhana yang berisi item-item yang jumlahnya sangat terbatas.

b. Evaluasi Prasyarat

evaluasi jenis ini sangat mirip dengan pre test. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi penguasaan siswa atas materi lama yang mendasari materi baru yang akan diajarkan. Contoh evaluasi penguasaan penjumlahan bilangan sebelum memulai pelajaran perkalian bilangan, karena penjumlahan merupakan prasyarat atau dasar perkalian.

c. Evaluasi Diagnostik

Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang di tujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya. Evaluasi ini dilakukan setelah selesai penyajian sebuah satuan pelajaran dengan tujuan mengidentifikasi bagian-bagian tertentu yang belum dikuasai siswa. Instrumen evaluasi jenis ini dititikberatkan pada bahasan tertentu yang dipandang telah membuat siswa kesulitan.

d. Evaluasi Formatif

Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan meningkatan proses belajar dan mengajar. Evaluasi jenis ini dapat dipandang sebagai “ulangan” yang dilakukan pada setiap akhir penyajian satuan pelajaran atau modul. Tujuannya ialah untuk memperoleh umpan balek yang mirip dengan evaluasi diagnostic, yakni untuk mendiagnosis (mengetahui kesulitan) belajar siswa. Hasil diagnosis kesulitan belajar tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan rekayasa pengajaran remedial (perbaikan).

e. Evaluasi sumatif

Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan bekerja siswa. Ragam penilaian sumatif dapat dianggap sebagai “ulangan umum” yang dilakukan untuk mengukur kinerja akademik atau prestasi belajar siswa pada akhir periode pelaksanaan program pengajaran. Evaluasi ini lazim dilakukan pada setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran. Hasilnya dijadikan bahan laporan resmi mengenai kinerja akademik siswa dan bahan penentu naik atau tidaknya siswa ke kelas yang lebih tinggi.

f. Ujian Akhir Nasional (UAN)

Ujian Akhir Nasional (UAN) yang dulu disebut EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) pada prinsipnya sama dengan evaluasi sumatif dalam arti sebagai alat penentu kenaikan status siswa. Namun UAN  yang diberlakukan mulai tahun 2002 itu dirancang untuk siswa yang telah menduduki kelas terting pada susatu jenjang pendidikan tertentu seperti jenjang SD/MI,SLTP/MTs, dan sekolah-sekolah menengah yakni SMA/MA dan sebagainya.

2. Jenis Evaluasi Berdasarkan Sasaran.

a. Evaluasi Konteks

Evaluasi yang ditujukan untuk mengukur konteks program baik mengenai rasional tujuan, latar belakang program, maupun kebutuhan-kebutuhan yang muncul dalam perencanaan

b. Evaluasi Input

Evaluasi yang diarahkan untuk mengetahui input baik sumber daya maupun strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan.

c. Evaluasi Proses

Evaluasi yang di tujukan untuk melihat proses pelaksanaan, baik mengenai kalancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor pendukung dan faktor hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan, dan sejenisnya.

d. Evaluasi Hasil Atau Produk

Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai sebagai dasar untuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki, dimodifikasi, ditingkatkan atau dihentikan.

e. Evaluasi Outcom Atau Lulusan

Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil belajar siswa lebih lanjut, yankni evaluasi lulusan setelah terjun ke masyarakat.

3. Jenis Evalusi Berdasarkan Lingkup Kegiatan Pembelajaran

a. Evaluasi Program Pembelajaran

Evaluasi yang mencakup terhadap tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran, strategi belajar mengajar, aspek-aspek program pembelajaran yang lain.

b. Evaluasi Proses Pembelajaran

Evaluasi yang mencakup kesesuaian antara proses pembelajaran dengan garis-garis besar program pembelajaran yang di tetapkan, kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

c. Evaluasi Hasil Pembelajaran

Evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun khusus, ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik.

4. Jenis Evaluasi Berdasarkan Objek Dan Subjek Evaluasi

a. Berdasarkan Objek

a.1.Evaluasi Input

yakni Evaluasi terhadap siswa mencakup kemampuan kepribadian, sikap, keyakinan

a.2.Evaluasi Transformasi

Evaluasi terhadap unsur-unsur transformasi proses pembelajaran antara lain materi, media, metode dan lain-lain.

a.3.Evaluasi output

5. Evaluasi Terhadap Lulusan Yang Mengacu Pada Ketercapaian Hasil

Pembelajaran Berdasarkan Subjek

a.Evaluasi internal

Evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam sekolah sebagai evaluator, misalnya guru.

b.Evaluasi eksternal

Evaluasi yang dilakukan oleh orang luar sekolah sebagai evaluator, misalnya orangtua, masyarakat.

  1. D.    SASARAN EVALUASI PEMBELAJARAN

Evaluasi pembelajaran adalah evaluasi terhadap proses belajar mengajar. Secara sistemik, evaluasi pembelajaran diarahkan pada komponen-komponen sistem pembelajaran, yang mencakup :

  1. komponen input, yakni perilaku awal siswa,
  2. komponen input instrumental yakni kemampuan profesional guru/tenaga kependidikan,
  3. komponen kurikulum (program studi, metode, media),
  4. komponen administratif (alat,waktu, dana)
  5. Komponen proses ialah prosedur pelaksanaan pembelajaran.
  6. Komponen output ialah hasil pembelajaran yang menandai ketercapaian tujuan pembelajaran.

Evaluasi disini hanya ditujukan pada evaluasi terhadap komponen proses dalam kaitannya dengan komponen input instrumental. Dalam hal ini yang dievaluasi adalah karakteristik siswa dengan menggunakan suatu tolak ukur tertentu. Karakteristik -karakteristik tersebut dalam ruang lingkup kegiatan belajar-mengajar adalah

  1. tampilan siswa dalam bidang kognitif,
  2. afektif, dan
  3. psikomotor.

Tampilan tersebut dapat dievaluasi secara lisan, tertulis, maupun perbuatan. Dengan demikian mengevaluasi di sini adalah menentukan apakah tampilan siswa telah sesuai dengan tujuan instruksional yang telah dirumuskan atau belum.
Apabila lebih lanjut kita kaji pengertian evaluasi dalam pembelajaran, maka akan diperoleh pengertian yang tidak jauh berbeda dengan pengertian evaluasi secara umum. Pengertian evaluasi pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui :

  1. Kegiatan pengukuran. Pengukuran yang dimaksud di sini adalah proses

membandingkan tingkat keberhasilan pembelajaran dengan ukuran keberhasilan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif.

  1. Penilaian pembelajaran. Penilaian yang dimaksud di sini adalah proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan pembelajaran secara kualitatif.
  1. E.     Kriteria Tes Yang Baik

Apapun tujuannya, suatu evaluasi yang baik harus memenuhi 3 kriteria atas syarat :

  1. Valid

Suatu tes dikatakan valid sahih apabila tes tersebut mengukur apa yang sebenarnya diukur. Sebagai ilustrasi neraca adalah alat ukur yang valid untuk mengukur berat beras. Sebaliknya, kaleng takaran adalah alat ukur yang kurang valid untuk itu, karena takaran sebenarnya mengukur volume.

Contoh yang lebuh relevan adalh tes objektif bentuk pilihan ganda. Jawaban yang diberikan oleh siswa dalam bentuk soal ini tidak sepenuhnya menggambarkan kemampuan siswa dalam materi yang diujikan, karena tidak tertutup kemungkinan bahwa secara tidak langsung justru menguji kemampuan siswa menebak.

Tes objektif yang memiliki validitas yang tinggi diantaranya adalah tes dengan soal bentuk isian. Dalam tes bentuk isian, siswa tidak dapat menebak, dan jawaban yang diisikannnya menggambarkan kemampuannya.

  1. Reliable

Reliabilitas atau keajegan suatu  tes adalah kemampuan tes dalam memberikan hasil yang konsisten sekalipun terjadi penggantian penguji. Begitu juga jawaban yang benar atas soal akan selalu tetap. Tes objektif dalam hal ini memiliki realibilitas yang tinggi. Dalam tes jenis pilihan ganda contohnya, mempunyai hanya satu option yang benar. Kapanpun dan oleh siapapun tes digunakan, option atau jawaban yang benar tidak berubah.

Sedangkan tes uraian adalah tes dengan realibiliats yang rendah. Dengan tes jenis ini dimungkinkan adanya dua jawaban yang berbeda dari dua orang siswa yang berbeda, tetpai diinterpretasikan atau diberi nilai yang sama oleh guru penilai yang sama. Sebaliknya guru yang berbeda ketika menilai satu lembar kerja dari seorang siswa  yang sama akan diinterpretasikan secara berbeda dan memberikan nilai yang berbeda pula.

  1. Praktis

Sebaik apapun validitas dan realibilitas suatu tes, masih perlu dipertimbangkan apakah tes tersebut cukup praktis diterapkan. Praktis disini meliputi dana, waktu, kemampuan penguji dan pengolah. Tes praktek kedokteran dengan menggunakan pasien sebenarnya sangat valid dan reliable. Tetapi metode tes seperti ini tidaklah praktis. Sangat sulit mnegumpulkan pasien dnegan keluhan yang sama untuk sejumlah peserta tes.

  1. F.     Ragam Alat Evaluasi Pembelajaran

Secara garis besar alat evaluasi terdiri atas dua macam bentuk yaitu bentuk objektif dan bentuk subjektif.

  1. a.      Bentuk Objektif

Bentuk ini lazim juga desebut tes objektif, yakni tes yang jawabanya dapat diberi skor nilai secara lugas (seadanya) menurut pedoman yang ditentukan sebelumnya. Ada lima macam tes yang termasuk dalam evaluasi ragam objektif ini.

1). Tes Benar – Salah

Tes ini merupakan alat evaluasi yang paling bersahaja baik dalam hal susunan item-itemnya maupun dalam hal cara menjawabnya. Soal-soal dalam tes ini berbentuk pernyataan yang pilihan jawabanya hanya dua macam yaitu benar (B) atau salah (S). apabila soal-soalnya disusun dalam pertanyaan jawaban yang harus dipilih “ya” atau “tidak”.

Dalam dunia pendidikan modern, tes semacam ini itu sudah lama ditinggalkan karena dua  alasan yakni :

  1. Tes “B – S” tidak menghargai kreativitas akal siswa karena mareka hanya didorong untuk memilih sekenanya salah satu dari dua alternative yang ada.
  2. Tes “B – S” dalam beberapa segi tertentu dianggap sangat rendah tingkat reliabilitasnya.

2).  Tes Pilihan Ganda

Item-item dalam tes pilihan berganda (multiple choice) biasanya berupa  pertanyaan atau pernyataan yang dapat dijawab dengan memilih salah satu dari empat atau lima alternative jawaban yang mengiringi soal. Cara yang sangat lazim dilakuan ialah menyilang (X) salah satu huruf a, b, c, d, atau e yang menandai alternative jawaban yang benar.

Contoh soal :

I’m worried …….. my final exam in grammar.

  1. About failing                        c. about fail
  2. To fail                                   d. with failing

Prosedur Membuat Soal Pilihan Ganda antara lain :

  1. Yakinkan bahwa pertanyaan tersebut penting dan relevan dengan standar dari kelas yang di tes.

ii. Isi utama dari pertanyaan harus termuat dalam stem, dan alternative jawaban diusahakan sesingkat mungkin.

iii. hindarkan stem dari informasi yang berlebihan (redundunt)

iv. Yakinkan bahwa distractor yang anda gunakan adalah jawaban salah tetapi ada kaitan dengan permasalahan yang ditanyakan dan bukan pernyataan yang tidak relevan atau sekedar memenuhi jumlah distractor.

v. hindarkan memberikan pengarahan terhadap pilihan yang benar atau salah secara tidak langsung dan kemungkinan peserta tes menjawab secara menebak dengan memperhatikan hal-hal berikut ini :

  • Membuat semua opsi, yang benar dan yang salah dalam kalimat yang relative sama panjang.
  • Secara tata bahasa kata atau kalimat semua opsi merupakan kelanjutan yang sesuai dengan stem.
  • Mendistribusikan jawaban yang benar dari seluruh item soal secara merata untuk semua posisi (a,b,c,d atau e)
  • Hindari penempatan jawaban yang benar secara berturut dar satu item ke item berikutnya (misalnya  jawaban untuk soal no 1 adalah b dan untuk jawaban soal no 2 adalah c )
  • Menghindarkan jawaban : semua kemungkinan di atas benar dan semua kemungkinan di atas salah.
  • Hindarkan penggunaan kalimat negative dalamm stem.
  • Jangan menggunakan pertanyaan yang bersifat “trick” (kesulitan peserta tes menjawab dan kegagalan mereka bukanlah tujuan dari penyelenggaraan tes).

Pemberian Skor Tes Bentuk Soal Pilhan Ganda

Ada cara 2 dalam pemberian skor tes dengan pilihan ganda, menggunakan skor minus dan tidak menggunakan skor minus.

  • Menggunakan Skor Minus

Pemberian skor untuk setiap item adalah sebagai berikut :

Jawaban benar skornya           : 1

Jawaban salah skornya            : -1

Tidak dijawab                         : 0

Skor dihitung dengan rumus   :

St = B – (S / (n-1)

Keterangan      :

St         : skor total

B         :  jumlah skor dari jawaban yang benar

S          :  jumlah skor dari jawaban yang salah

n          :  jumlah opsi dalam setiap item

Contoh            :

Jumlah soal,     N                     : 30

Jumlah opsi per item n            : 4

Hasil koreksi dari lembar jawaban misalkan Muhammad adalah :

Jawaban yang benar                (B)                   : 4 item

Jawaban yang salah                 (S)                   : 8 item

Jawaban yang tidak dikerjakan  (Tk)              : 18 item

Skor total Muhammad untuk tes sola pilihan ganda  adalah :

St         =   B – (S / (n-1) )

=    4 – (8 / (4-1))

=    4 – (8 / (3))

=    4 – (8/3)

=    4 – 2,66

=   1.34

Tujuan menggunakan skor minus sebagai denda untuk menghindari peserta menebak. Dengan pemberian skor minus, peserta tes menjadi berhati-hati dalam memilih jawaban. Kelemahan penggunaan skor minus adalah bahwa ada kemungkinan skor total yang diperoleh peserta bernilai minus. Sehingga diperlukanj penggunaan teknik statistic atau cara lain untuk mengkonversinya menjadi nilai sebenarnya.

Contoh :

Dalam ujian sama dengan contoh sebelumnya, hasil koreksi terhadap pekerjaannya Rommi adalah :

Jawaban yang benar (B)                      : 4 item

Jawaban yang salah (S)                       : 24 item

Jawaban yang tidak dikerjakan (Tk)   : 2 item

Skor total Rommi untuk pilihan ganda itu adalah:

St = B – (S/(n-1))

= 4 – (24/(4-1))

= 4 – (24/3)

= 4 – 8

= -3

  • Tidak Menggunakan Skor Minus

Dengan cara ini pemberian skor kepada setiap jawaban adalah sebagai berikut:

Jawaban benar                                     : skor 1

Jawaban salah dan tidak terjawab      : skor 0

Rumus perhitungan skor totalnya adalah :

St = B

Jadi dengan cara ini, untuk contoh yang sama maka skor total Muhammad menjadi :

St = B

= 4

Bandingkan dengan skor total peserta Rommi jika tidak menggunakan skor minus yaitu sebagai berikut :

St  = B

= 4

Keuntungan dari cara ini adalah tidak adanya kemungkinan skor total negative. Tetapi dengan tidak adanya denda bagi jawaban yang salah karena untuk jawaban yang salah dan tidak terjawab sama-sama memperoleh skor Nol, peserta tidak menghadapi resiko sekiranya berspekulasi dengan menebak jawaban yang dipilih.

Dalam contoh terlihat bahwa ketika skor dihitung tanpa pemberian skor minus kedua peserta tes si Muhammad dan Rommi sama-sama memperoleh skor 4 karena keduanya menjawab dengan benar sebanyak 4 soal. Padahal Muhammad karena berhati-hati hanya mengrjakan dengan salah sebanyak 8 item. Bandingkan dengan Rommi yang salahnya sebanyak 24 item. Dengan contoh ini dapat disimpulkan bahwa penskoran tanpa pemberian skor negative kurang adil.

Pada zaman sekarang ini, dunia pendidikan khususnya di Barat mulai meninggalkan tes pilihan ganda kecuali untuk keperluan-keperluan di luar pengukuran prestasi belajar. Alasan-alasan ditinggalkannya jenis tes ini ialah :

  1. Kurang mendorong kreativitas ranah cipta dan karsa siswa, karena ia hanya merasa disuruh berspekulasi, yakni menebak menyilang secara untung-untungan.
  2. Sering terdapat dua jawaban (diantara empat atau lima alternatif) yang identic atau sangat mirip, sehingga terkesan kurang diskriminatif.
  3. Sering terdapat satu jawaban yang sangat mencolok kebenarannya, sehingga jawaban-jawaban lainnya terlalu gampang untuk ditinggalkan.

Namun demikian, sampai batas tertentu pelihan ganda masih dapat digunakan untuk mengevaluasi prestasi belajar siswa dengan catatan, penyusunanya dilakukan secara ekstra cermat. Dalam hal ini, guru seyognya berusaha sebaik-baiknya untuk menghindari kelemahan-kelemahan di atas .

3). Tes Pencocokan (Menjodohkan)

Tes Pencocokan (matching test) disusun dalam dua daftar yang masing-masing memuat kata, istilah atau kalimat yang diletakkan bersebelahan. Tugas siswa dalam menjawab item-item soal ialah mencari pasangan yang selaras antara kalimat atau istilah yang ada pada daftar A (berisi item-item yang ditandai dengan nomor urut 1 sampai 10 dan seterusnya menurut kebutuhan) dengan daftar B terdiri atas item-item yang ditandai huruf a, b,c dan sterusnya.

Untuk menjaga mutu reliabiltas dan validitasnya salah satu daftar instrument evaluasi di atas sebaiknya ditambah sekitar 10 % samapi 20%. Dengan demikian, kemungkinan siswa menebak sekenanya pada saat mengerjakan satu atau dua soal yang terakhir dapat dihindari.

4). Tes Isian

Alat tes isian biasanya berbentuk cerita atau karangan pendek, yang ada bagian-bagian yang memuat istilah atau nama tertentu dikosongkan. Tugas siswa adalah berfikri untuk menemukan kata-kata yang relevan dengan karangan tersebut. Lalu kata-kata itu ditulidkan pada titik-titik atau ruang kosong yang terdapat pada badan karangan tadi.

5). Tes Perlengkapan (Melengkapi)

Cara menyelesaikan tes melengkapi pada dasarnya sama dengan cara menyelesaikan tes isian. Perbedaanya terletak pada kalimat-kalimat yang digunakan sebagai instrument. Dalam tes melengkapi,kaliam-kaliamt tersusun dalam bentuk karangan atau cerita pendek terjadi dalam bentuk yang masing-masing berdiri sendiri.

b). Bentuk Subjektif

            Alat evaluasi yang berbentuk tes subjektif adalah alat pengukur prestasi belajar yang jawabannya tidak dinilai dengan skor atau angka pasti, seperti yang digunakan untuk evaluasi objektif. Hal ini disebabkan banyaknya ragam gaya jawaban yang diberikan oleh para siswa. Instrument evaluasi mengambil bentuk essay examination, yakni soal ujian mengharuskan siswa menjawab setiap pertanyaan dengan cara menguraikan atau dalam bentuk karangan bebas.

Banyak ahli mengaggap evaluasi subjectif itu sukar sekali dipercaya reliabilitas dan validitasnya, karena subjektivitas guru penilaiannya lebih menonjol (Suryabrata, 1984). Contoh: sebuah esai jawaban hari ini diberi nilai 70, mungkin dua minggu ke depan, jika diperiksa lagi akan bernilai 60 atau 80. Alasan ini konon berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan lebih dari setengah abad yang lalu, antara lain oleh E.W. Tiegs (1939) dan Strach & Elliof (1939).

Ada beberapa keunggulan tes essay yang secara implisit diakui juga oleh Suryabrata (1984), yakni bahwa :

  1. Tes essay tidak hanya mampu mengungkapkan materi hasil jawaban siswa tetapi juga cara atau jalan yang ditempuh  untuk memperoleh jawaban itu.
  2. Tes essay dapat mendorong siswa untuk berfikir kreatif, kritis, bebas, mandiri, tetapi tanpa melupakan tanggunga jawab .

Mengenai sikap subjektif guru penilai tidak perlu menjadi halangan penggunaan tes ini, sebab seperti objectivitas, subjektivitas juga ada batasnya. Alhasil, persoalan kita adalah bagaiman kita mencetak guru professional dalam arti luas dan komprehensif termasuk dalam hal evaluasi prestasi belajar para siswanya.

.

  1. G.    Evaluasi Pelbagai Ranah Psikologis

Pada bagian ini akan dibahas serba singkat alternatif pengukuran keberhasilan belajar baik yang berdimensi ranah cipta, ranah rasa, maupun ranah karsa. Namun, tekanan khusus pada bagian ini akan diberikan pada pengukuran prestasi ranah rasa mengingat sangat jarangnya buku yang membahas masalah tersebut secara memadai.

  1. Evaluasi Prestasi Kognitif

Mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (rasa cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. Karena semakin membengkaknya jumlah sisiwa di sekolah-sekolah, tes lisan dan perbuatan saat ini semakin jarang digunakan. Alasan lain mengapa tes lisan khususnya kurang mendapat perhatian ialah karena pelaksanaannya yang face of face (berhadapan langsung). Cra ini conon dapat mendorong penguji untuk bersikap fair terhadap si teruji/peserta didik tertentu.

Dampak nagatif yang terkadang muncul dalam tes yang face to face itu, sikap dan perlakuan penguji yang subjektif dan kurang adil, sehingga soal yang diajukan pun tingkat kesukaranya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Disatu pihak ada siswa yang diberi soal yang mudah dan terarah (sesuai dengan topik) sedangkan di pihak yang lain ada pula siswa yang ditanyai masalah yang sukar bahkan terkadang tidak relevan dengan topik.

Untuk mengatasi masalah sunjektivitas itu, semua jenis tes tertulis baik yang berbentuk subjektif maupun yang berbentuk objektif (kecuali tes B-S), seyogiannya dipakai sebaik-baiknya oleh para guru. Namun demikian, apabila anda menghendaki informasi yang lebih akurat mengenai kemampuan kognitif siswa, selain tes B-S, tes pilihan bergandajuga sebaiknya tidak digunakan. Sebagai gantinya, anda sangat dianjurkan untuk menggunakan tes pencocokan (matcing test), tes isian, dan tes esai. Khusus untuk mengukur kemampuan analisis dan sistesis siswa, anda lebih dianjurkan untuk untuk menggunakan tes esai, karena tes ini adalah ragam instrument evaluasi yang dipandang paling tepat untuk mengevakuasi dua jenis kemampuan akal siswa tadi.

  1. Evaluasi Prestasi Afektif

Dalam merencanakan penyusunan instrument tes prestasi siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi (lihat Tabel 7) sayogiannya mendapat perhatian khusus. Alasannya, karena kedua jenis prestasi ranah rasa itulah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa.

Salah satu bentuk tes ranah rasa yang popular ialah “Skala Likert” yang tujuannya untuk mengidentifikasi kecendrungan/sikap orang (Reber, 1988). Bentuk skala ini menampung pendapat yang mencerminkan sikap sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Rentang skala ini diberi skor 1 sampai 5 atau 1 sampai 7 bergantung kebutuhan dengan catatan skor-skor itu dapat mencerminkan sikap-sikap mulai sangat “ya” sampai sangat “tidak”. Peerlu pula dicatat, untuk memudahkan identifikasi jenis kecendrungan afektif siswa yang refresentatif item-item skala sikap sebaiknya dilengkapi dengan label/identitas sikap yang meliputi:

1)      Doktrin, yakni pendirian;

2)      Komitmen, yakni ikrar setia untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan;

3)      Penghayatan, yakni pengalaman batin;

4)      Wawasan, yakni pandangan atau cara memandang sesuatu.

Selanjutnya, untuk memperjelas uraian tadi disajikan sebuah contoh sikap terrhadap penyalahgunaan narkotik dan obat-obat terlarang (naekoba) seperti tampak pada Tabel 9 di bawah ini.

Cara lain menyusun instrumen skala sikap siswa dapat juga ditempuh dengan menggunakan skala ciptaan C. Osgood yang disebut semantic differential (Tardif, 1989), seperti yang penyusun contohkan sebagai berikut.

Tabel 9

Sikap Siswa terhadap Penyalahgunaan Narkoba

Pernyataan

Skala Sikap

Sangat

 tidak setuju

Sangat

 Setuju

  1. Penyalahgunaan narkoba apapun alasannya tak dapat dibenarkan/haram (D)
  2. Penyalahgunaan narkoba tidak hanya merusak jasmani saja, tetapi juga merusak rohani (P)
  3. Mengindari penyalahgunaan narkoba itu hukumnya wajib (K)
  4. Masyatakat membenci penyalahgunaan narkoba (W)

1

1

1

1

2

2

2

2

3

3

3

3

4

4

4

4

5

5

5

5

Catatan:

(D) = Doktrin; (K) = Komitmen;

(P) = Penghayatan; (W) = Wawasan.

Menjenguk teman yang sedang sakit tanpa disuruh

Buruk              *          *          *          *          *          *          *          *          Baik

1          2          3          4          5          6          7

Selanjutnya, tugas siswa yang sedang dievaluasi (testee) adalah memilih alternatif sikap yang sesuai dengan keadaan dirinya sendiri. Kemudian, sikap itu dinyatakan dengan cara memberi tanda cek (P) pada ruang bernomor yang sesuai dengan kecendrungan sikapnya. Cara penyelesaian evaluasi sikap dengan membubuhkan tanda cek seperti itu berlaku baik untuk skala Likert maupun skala diferensial semantik.

Hal ini yang perlu diingat guru yang hendak menggunakan skala sikap ialah bahwa dalam evaluasi ranah rasa yang dicari bukan benar dan salah, melainkan sikap atau kecendrungan setuju atau tidak setuju. Jadi, tidak sama dengan evaluasi ranah cipta yang secara principal bertujuan mengungkapkan kemampuan akal dengan batasan salah dan benar.

Bagaimana cara mengetahui hasil/prestasi rana rasa yang diukur dengan skala-skala sikap diatas? Untuk menjawab pertanyaan ini, seperti yang telah penyusun kemukakan sebelumnya, anda dianjurkan untuk mempelajari buku-buku khusus mengenai evaluasi dan statistic pendidikan. Dari buku itu anda akan tahu bagaimana cara mengolah, menganalisis, dan menafsirkan serta menyimpulkan data hasil evaluasi ranah rasa para siswa.

  1. Evaluasi Prestasi Psikomotor

Cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi ranah psikomotor (ranah karsa) adalah oobservasi. Observasi, dalam hal ini, dapat diartikan sebagai sejenis tes mengenai peristiwa, tingkah laku, atau fenomena lain, dengan pengamatan langsung. Namun, observasi harus dibedakan dari eksperimen, karena eksperimen pada umumnya dipandang sebagai salah satu cara observasi (Reber, 1988).

Guru yang hendak melakukan observasi perilaku psikomotor siswa-siswanya seyogianya mempersiapkan langkah-langkah yang cermat dan sistematis menurut pedoman yang terdapat dalam lembar format observasi yang sebelumnya telah disediakan baik sekolah maupun guru itu sendiri. Contoh: evaluasi kecakapan ranah karsa siswa dalam melaksanakan ibadah shalat seperti yang akan penyusun jelaskan lebih lanjut.

Format lembar observasi kecakapan melaksanakan ibadah shalat di atas dpat dibuat seperti Tabel 10.

Tabel 10

Format Observasi Kecakapan Beribadah Shalat

No

Jenis-jenis Kegiatan

Pelaksanaan Kegiatan

Ya

Tidak

Takbiratul-ihram (membaca tabir dan mengangkat kedua belah tangan)

……

……

Berdiri (cara berdiri dan meletakkan kedua belah tangan)

……

……

Ruku’ dan I’tidal (termasuk proses dan caranya)

……

……

4. Sujud dan duduk antara dua sujud

……

……

5. Duduk tasyahhud awal

……

……

6. Duduk tasyahhud akhir

……

……

7. Ucapan dua salam dan gerakanya

……

……

Penilaian atas kecakapan melaksanakan ibadah shalat itu didasarkan pada ada atau tidak adanya kegiatan yang tercantum didalam format observasi. Titik-titik pada kolom “ Ya” dan kolom “Tidak” hendaknya diisi oleh guru dengan cara membubuhkan tanda cek (P) sesuai dengan kenyataan. Penulisan nama atau nomor pokok siswa dapat dilakukan secara individual.

Jika tes dilakukan secara berkelompok, penulisan kata “perempuan” dan “laki laki” (sebagai kelompok jenis kelamin terpisah) dapat juga dilakukan sebagai salah satu alternatif. Selain itu, jika tes diberlakukan kepada kelompok siswa dari kelas-kelas yang berbeda (tetapi masih setara) umpamanya Kelas II/A dan Kelas II/B, maka identitas kelas perlu ditulis dengan jelas misalnya pada sudut kanan atas format observasi tersebut.

Selanjutnya, apabila guru menghendaki penilaian dengan menggunakan norma skala angka, kolom “ya” dan “tidak” dapat dihapus dan diganti dengan skor-skor, misalnya mulai 5 sampai 10. Siswa yang mendapat skor 5 kebawah dianggap tidak memenuhi kriteria keberhasilan belajar (lihat uraian mengenai Batas Minimal Prestasi Belajar).

Menentukan Nilai Atau Momentum

  1. 1.      Alasann pengubahan skor menjadi nilai

               Perlu diketahui bahwa skor bukanlah nilai tes. Oleh sebab itu diperlukan perubahan skor menjaid nilai tau ponten diantarnya mengingat hal-hal berikut ini :

  1. Jika yang digunakan adalah PAK sedangkan jumlah skor maksimum ideal seluruhnya tidak sama dengan 100, misalnya 80 atau 120, maka skor yang diperoleh peserta harus diubah ke dalam skala 100 karena lazimnya rentang nilai adalah 0 – 100.
  2. Jika digunakan skor minus untuk setiap kesalahan dalam pengerjaan soal bentuk objektif, akan terdapat kemungkinan adanya peserta yang memperoleh skor total negative. Oleh sebab itu perlu dilakukan konversi skor menjadi nilai yang positif  rentang 0 – 100.
  3. c.       Jika yang digunakan adalah PAN, skor seseorang peserta tidak bisa secara otomatis dikonversi menjadi nilai yang bersangkutan sebelum dibandingkan dengan peserta lainnya.       
  1. 2.      Macam-Macam Nilai Yang Digunakan Di Perguruan Tinggi

Perlu dijelaskan bahwa saat ini lembaga pendidikan tinggi di Indonesia digunakan tiga macam nilai sebagaimana terlihat dalam table. Pertama adalah nilai di kategorikan ke dalam 5 kategori yang diberi label huruf A, B, C, D, E. Namun untuk keperluan perhitungan indeks prestasi (IP) nilai huruf yang bersifat kualitatif tersebut dapat dikonversikan ke dalam nilai kualitatif dalam bentuk angka 4,3,2,1,0. Di samping kedua nilai tersebut, masih digunakan nilai rentang   0 – 100.

Macam-macam nilai yang digunakan di Perguruan Tinggi di Indonesia

Nilai Huruf Kategori Nilai angka
Skala 0 – 4 Skala 0 – 100
A Sangat baik 4 80 – 100
B Baik 3 68 – 79
C Cukup 2 55 – 67
D Kurang 1 45 – 54
E Sangat kurang 0 < 45

Nilai rentang 0 – 100 digunakan dalam perhitungan nilai mentah sebelum dikonversi ke dalam nilai huruf. Table dibawah ini akan memperlihatkan contoh tahapan konversi nilai tersebut. Penilaian dimulai dengan pemberian nilai-nilai tugas, nilai ujian tengah semester, dan nilai akhir semester dengan menggunakan rentang nilai 0-100. Selanjutnya dengan merujuk kepada table di atas, nilai di konversi ke dalam nilai huruf dan kemudian ke nilai angka dengan skala 0 – 4, sebagaimana tertuang dalam table di bawah.

no

Nama Mhs

Nilai hadir

(10%)

Nilai tugas

(20%)

Nilai UTS

(30%)

Nilai UAS

(40%)

Nilai akhir mata kuliah

kelulusan

Angka

0-100

huruf

Angka

0 – 4

1

Starlet

80

70

40

40

52

D

1

Lulus

2

Buddy

100

70

60

60

72

B

3

Lulus

3

Isa

100

90

90

90

91

A

4

Lulus

4

Novi

60

50

40

30

40

E

0

Tidaklulus

5

Vila

90

60

50

60

66

C

2

Lulus

            Isi table di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Besarnya persentase nilai kehadiran, nilai tugas, nilai UTS (Ujian Tengah Semester), dan nilai UAS (Ujian Akhir Semester) ditentukan oleh lembaga pendidikan tinggi.
  2. Nilai yang diberikan terhadap kehadiran, tugas, UTS,UAS masih bersifat nilai mentah. Oleh sebab itu menggunakan rentang nilai 0-100.
  3. Nilai akhir mata kuliah mula-mula dihitung dengan menggunakan rentang nilai 0-100. Hasil perhitungan kemudian dikonversi ke nilai huruf dan seterusnya ke nilai angka dengan skala 0-4.
  4. Kelulusan mahasiswa ditentukan berdasarkan nilai huruf atau kategorinya.

Menentukan nilai akhir mata kuliah atau mata pelajaran

  1. Nilai akhir mata pelajaran teori

Banyak pakar sepakat bahwa nilai akhir mata pelajaran atau nilai akhir mata kuliah bukan hanya ditentukan berdasarkan hasil tes akhir saja. Tetapi juga merupakan gabungan dari berbagai tes dan juga nilai harian termasuk kehadiran tugas yang diberikan kepada siswa atau mahasiswa. Dengan perkataan lain bilai tersebut mempertimbangkan nilai proses selama siswa atau mahasiswa mengikuti pembelajaran.

Pandangan ini dapat diterima diantarnya mengingat bahwa bisa saja seorang siswa atau mahasiswa  ketika ujian atau tes berlangsung dalam kondisi tidak sehat dan lain sebagainya yang kurang menguntungkan dan bersifat non-akademik. Oleh sebab itu, pemanfaatan nilai kumulatif dari kehadiran, tugas, tes formatif, UTS, dan nilai akhir dalam menetukan nilai akhir mata pelajaram atau mata kuliah perkuliahan merupakan tindakan bijaksana dan secara akademik dapat dipertanggungjawabkan.

Contoh penentuan nilai akhir perkuliahan berdasarkan  nilai kumulatif

Nilai Bobot atau persentase
Nilai kehadiran 10%
Nilai tugas 30%
Nilai UTS 30%
Nilai UAS 30%
Total nilai akhir 100%

Contoh 1 : data kehadiran dan prestasi mahasiswa bernama gelombangh adalah sebagai berikut :

Kehadiran 100%  nilai : 100

Nilai rata-rata tugas      :  80

Nilai UTS                    :  70

Nilai UAS                    :  60

Maka nilai akhir mata kuliah mahasiswa bernama gelombang adalah sebagai berikut :

NA      =10% x 100 + 30% x 80 + 30% x 60

= 10 +24 + 21 + 18

= 73 atau B

Contoh 2: data kehadiran dan prestasi bernama Samodra adalah sebagai berikut ;

Kehadiran 40%  nilai  : 40

Nilai rata-rata tugas      :  80

Nilai UTS                    :  70

Nilai UAS                    :  60

NA      =10% x 40 + 30% x 80 + 30% x 60

= 4 +24 + 21 + 18

= 67 atau C

Dari kedua contoh di atas terlihat bagaimana aspek kehadiran dapat menghasilkan perbedaan kepada nilai akhir yang diperoleh mahasiswa bernama buddy yang rajindan menghadiri 100% perkuliahan , dengan mahasiswa bernama novi yang malas dan menghadiri hanya 40% perkuliahan. Padahal jika dilihatdari nilai tugas, UTS, dan UAS, kedua mahasiswa tersebut memiliki capaian yang sama. Bagaimanapun, pendidikan tidak hanya mencakup pengetahuan dan keterampilan, akan tetapi juga sikap yang dicerminkan dari kerajinan mengikuti dan menghargai perkuliahan.

  1. Nilai akhir mata pelajaran teori dan praktek

Untuk mata pelajaran yang terdiri dari kegiatan belajar dan pembelajaran teori dan praktek seperti pada sekolah kejuruan, maka nilai akhir mata pelajaran perlu memperhitungkan kedua jenis kegiatan belajar pemeblajaran tersebut. Salah satu pandangan melihat bahwa untuk sekolah kejuruan, kegiatan praktek memiliki bobot yang lebih besar dari bobot kegiatan belajar dan pembelajaran teori. Contohnya adalah di bawah ini

Nilai teori              = 40% bobotnya

Nilai praktek         = 60% bobotnya

Nilai akhir totalnya = 100% bobotnya

 

 

 

 

BAB III PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Atas dasar pemaparan dan pembahasan tentang evaluasi pembelajaran di atas, maka dapat disimpulkan beberapa kajian dan pembahasan yang esensial dari bab ini, yakni sebagai berikut:

1).  Dalam konteks penilaian ada beberapa istilah yang digunakan, yakni pengukuran,

assessment   dan evaluasi

2).  Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guruakan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik.

Evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain (a) untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, (b) Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar (c) untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya, dan (d) Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan guru dalam peroses belajar mengajar (PBM). (e) Sebagai bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang yang meliputi pengembangan kurikulum, metode dan alat-alat untuk proses belajar mengajar.